Negara Indonesia yang belum juga maju dan miskin ini memang tidak kita sukai dan tidak kita kehendaki. Tetapi kita jangan lupa dan harus sadar bahwa negara lain mungkin saja menyenangi keadaan Indonesia yang tetap miskin, banyak utang, terbelakang SDM-nya, banyak pengangguran, banyak koruptor, dan lain-lain. Kita sebaiknya menyadari dan mewaspadai bahwa negara maju-yang didominasi negara-negara Amerika Utara, anggota MEE, dan Asia Timur-akan terus mengeksploitasi Indonesia dengan modal-modal mereka yang kuat mengingat Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam.
Meskipun demikian, negara Indonesia mungkin sangat disukai oleh negara-negara tetangga dan negara maju. Negara tetangga Singapura dipakai sebagai tempat pelarian para koruptor dari Indonesia-tentu juga bersama uangnya, maraknya penyelundupan BBM, dan penyelundupan pasir laut dari perairan kepulauan Riau untuk memperluas daratan Singapura yang nantinya memperluas batas teritorial laut mereka juga. oleh Malaysia kita dilecehkan dan direpotkan dengan masalah 2 juta orang TKI, lalu kasus Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang sudah beralih kepemilikannya ke Malaysia. Kemudian yang terakhir, Malaysia dengan lancangnya memberikan hak kepada BP Shell untuk mengeksplorasi minyak dan gas di daerah Ambalat yang katanya masih daerah teritorial mereka. Belum lagi banyak cukong dari Malaysia yang menadah kayu penebangan liar dari Indonesia. Demikian pula, kita selalu direpotkan oleh ulah pemerintah dan bangsa Australia, yang kelihatannya sangat khawatir atau tidak rela, malah seolah-olah merupakan ancaman kalau bangsa dan negara Indonesia kuat dan maju dalam negara bidang.
Negara Indonesia yang besar, berdaulat, bermartabat, begitu mudahnya dilecehkan oleh negara tetangga, dan dianggap sebagai bangsa papan bawah oleh bangsa-bangsa lain di dunia. sebagian besar bisa saja karena kesalahan kita sendiri, seperti para pemimpin yang tidak memikirkan rakyatnya, tidak mempunyai visi, hanya saling menyalahkan, membiarkan korupsi tetap merajalela, memperebutkan kedudukan dan jabatan, sehingga posisi atau "bargaining power" bangsa dan negara kita selalu lemah di mata negara lain dalam berbagai bidang.
Dalam buku Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), Tan Malaka menyatakan:
"Pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa kalau ada satu negara seperti Amerika ingin menguasai samudera dan dunia, dia mesti merebut Indonesia lebih dulu untuk sendi kekuasaannya. Si Amerika tadi tidak meramalkan, mungkin kelak rakyat Indonesia akan menguasai negaranya sendiri, tak mau menjadi umpan atau makanan negara lain, seperti lebih dari 300 tahun terakhir ini."
Itulah yang dikatakan Tan Malaka. Jadi, kalau tidak bisa merebut Indonesia dengan berbagai cara, maka perlemah saja Negara dan Bangsa Indonesia-baik dari segi ekonomi, industri, teknologi, persenjataan, dan lain-lain- karena sangat berbahaya Indonesia menjadi kuat. jadi bukan tidak mungkin ada persekongkolan di dunia ini dengan teori konspirasinya agar negara dan bangsa Indonesia tetap miskin, terbelakang, kacau balau, marak korupsi, dan sebagainya. Adalah berbahaya sekali bagi mereka kalau negara dan bangsa Indonesia kuat, maju, dan mandiri.
Tulisan di atas dikutip dari buku Entrepreneurship dalam Perspektif Kondisi Bangsa Indonesia karya Ir. H. Moko P. Astamoen

Tidak ada komentar:
Posting Komentar